Selasa, 25 Februari 2014

Sosiologi Pendidikan



MASALAH PUTUS SEKOLAH (DO), PENGANGGURAN DAN PENDIDIKAN WIRASWASTA
MAKALAH



1.      Masalah Putus Sekolah (Drop Out)
Putus Sekolah merupakan predikat yang diberikan kepada mantan peserta didik yang tidak mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan sehingga tidak dapat melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan berikutnya. Misalnya seorang warga masyarakat/ anak yang hanya mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar (SD) sampai kelas 5 (lima) disebut sebagai putus Sekolah SD (belum tamat SD/ tanpa STTB).
Masalah putus sekolah khususnya pada jenjang pendidikan rendah kemudian tidak bekerja atau berpenghasilan tetap, dapat merupakan beban masyarakat bahkan sering menjadi pengganggu ketenteraman masyarakat. Hal ini diakibatkan kurangnya pendidikan atau pengalaman intelektual serta tidak memiliki keterampilan yang dapat menopang kehidupannya sehari-hari. Terlebih bila mengalami frustasi dan merasa rendah diri tetapi bersikap overkompensasi bias menimbulkan gangguan-gangguan dalam masyarakat berupa perbuatan kenakalan yang bertentangan dengan norma-norma social yang positif.[1]
Ada 3 langkah yang dapat dilakukan, yaitu:
a.       Langkah Preventif
Membeli para peserta didik dengan keterampilan-keterampilan praktis dan bermanfaat sejak dini agar kelak bila diperlukan dapat merespons tantangan-tantangan hidup dalam masyarakat secara positif sehingga dapat mandiri dan tidak menjadi beban masyarakat atau menjadi parasit masyarakat. Misalnya keterampilan-keterampilan kerajinan, jasa, perbengkelan, elektronika, PKK, fotografi, batik, dan lain sebagainya.
b.      Langkah Pembinaan
Memberikan pengatahuan-pengetahuan praktis yang mengikuti perkembangan/ pembaruan zaman melalui bimbingan dan latihan-latihan dalam lembaga-lembaga social/ pendidikan luar sekolah seperti LKMD, PKK, dll.
c.       Langkah Tindak Lanjut
Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mereka untuk terus melangkah maju melalui penyediaan fasilitas-fasilitas penunjang sesuai kemampuan masyarakat tanpa mengada-ada termasuk membina hasrat pribadi untuk berkehidupan yang lebih baik dalam masyarakat. Misalnya memberikan penghargaan, bonus, keteladanan, kepahlawanan dan sebagainya sampai berbagai kemudahan untuk melanjutkan studi dengan program Belajar Jarak Jauh (BJJ), seperti Universitas Terbuka dsb, juga melalui koperasi dengan berbagai kredit (KIK, KCK, Kredit Profesi, dsb).[2]

2.      Masalah Pengangguran
Dalam Bahasa Belanda memiliki tiga arti, yaitu:
a.       Werkeloos: bagi pensiunan pegawai negeri meskipun tanpa bekerja setiap bulannnya dapat menerima uang pension bahkan  juga mendapat kenaikan uang pension sesuai ketentuann yang berlaku.
b.      Werkloos: bagi penduduk didaerah dingin, pada musim Winter mereka tidak perlu bekerja dan kebutuhan hidup sehari-hari telah mereka persiapkan pada hari-hari menjelang Winter datang.
c.       Werklooze: bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan, tetapi tanpa/ belum memperoleh pekerjaan.
Pengangguran yang sering menjadi masalah sosial adalah mereka yang enggan bekerja atau kurang gigih berusaha bahkan tidak mau berusaha, tetapi ingin enak dan terpenuhi kebutuhannya alias menjadi “parasit” masyarakat/ keluarga/ orang tua/ saudaranya.[3]
3.      Pendidikan Wiraswasta untuk Mengurangi Pengangguran dan Kemiskinan
a.       Definisi
Pengertian/ definisi wiraswasta dapat ditinjau secara nominal dan secara real. Definisi nominal/ harfiah dari kata wiraswasta (dari bahasa Sansekerta), ialah:
Wira: berani, perkasa, utama
Swa: (sendiri): berdiri menurut kekuatan sendiri: mandiri
Sta: (berdiri)
Definisi real/ operasional:
Wiraswasta adalah keberanian, keperkasaan, keutamaan dalam memenuhi kebutuhan hidup (sekeluarga) serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri.
Dengan kata lain dapat juga disebutkan bahwa:
Wiraswasta adalah sikap hidup yang memiliki keberanian, keperkasaan serta keutamaan dalam merespons setiap tantangan hidup dengan mengutamakan kekuatan sendiri.[4]
b.      Ciri-ciri Manusia Wiraswasta
Secara umum, manusia wiraswasta adalah orang yang memiliki potensi untuk berprestasi. Ia senantiasa memiliki motivasi yang besar untuk maju berprestasi. Dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong dirinya sendiri didalam mengatasi permasalahan hidupnya. Dengan kekuatan yang ada pada dirinya, manusia wiraswasta mampu berusaha untuk memenuhi setiap kebutuhan hidupnya.[5]
Ciri-ciri manusia wiraswasta, diantaranya:
·         Memiliki Moral yang Tinggi
Manusia yang bermoral tinggi bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kemerdekaan batin, yaitu kemerdekaan yang ditandai oleh adanya keselarasan antara keinginan-keinginan dengan pandangan dalam diri seseorang, adanya keselarasan antara kemauan dengan pengenalan diri atau seorang akan merasakan kemerdekaan batin apabila setiap tingkah lakunya sesuai dengan kemauan serta pengenalan diri. Disamping itu juga memiliki loyalitas terhadap hukum, sifat adil dan lebih mementingkan keutamaan.
·         Memiliki Sikap Mental Wiraswasta
Manusia yang bermental wiraswasta mempunyai kemauan keras untuk mencapai tujuan dan kebutuhan hidupnya, punya sifat jujur dan tanggungjawab, memiliki ketahanan fisik dan mental, tekun dan ulet dalam bekerja dan berusaha.
·         Memiliki Kepekaan terhadap Arti Lingkungan
Dengan belajar dan bekerja itu manusia memperoleh kemajuan dan keberhasilan dalam hidup. Lingkungan ikut mendukung usaha belajar dan bekerja manusia asalkan manusia mengenal dan mendaya gunakannya.
·         Memiliki Keterampilan Wiraswasta
Untuk menjadi manusia wiraswasta diperlukan beberapa keterampilan, seperti keterampilan berfikir kreatif, keterampilan dalam pembuatan keputusan, keterampilan dalam kepemimpinan dan keterampilan dalam bergaul antar manusia.[6]


[1] Ary H. Gunawan, SOSIOLOGI PENDIDIKAN Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), hlm 71-72
[2] Ary H. Gunawan, Ibid, hlm 72-73
[3] Ary H. Gunawan, Ibid, hlm 73
[4] Ary H. Gunawan, Ibid, hlm 75-76
[5] Wasty Soemanto, Pendidikan Wiraswasta (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hlm 43
[6] Wasty Soemanto, Ibid, hlm 54-77

Tidak ada komentar:

Posting Komentar