MASALAH
PUTUS SEKOLAH (DO), PENGANGGURAN DAN PENDIDIKAN WIRASWASTA
MAKALAH
1. Masalah Putus Sekolah (Drop Out)
Putus
Sekolah merupakan predikat yang diberikan kepada mantan peserta didik yang
tidak mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan sehingga tidak dapat
melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan berikutnya. Misalnya seorang warga
masyarakat/ anak yang hanya mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar (SD) sampai
kelas 5 (lima) disebut sebagai putus Sekolah SD (belum tamat SD/ tanpa STTB).
Masalah
putus sekolah khususnya pada jenjang pendidikan rendah kemudian tidak bekerja
atau berpenghasilan tetap, dapat merupakan beban masyarakat bahkan sering menjadi
pengganggu ketenteraman masyarakat. Hal ini diakibatkan kurangnya pendidikan
atau pengalaman intelektual serta tidak memiliki keterampilan yang dapat
menopang kehidupannya sehari-hari. Terlebih bila mengalami frustasi dan merasa
rendah diri tetapi bersikap overkompensasi bias menimbulkan gangguan-gangguan
dalam masyarakat berupa perbuatan kenakalan yang bertentangan dengan
norma-norma social yang positif.[1]
Ada
3 langkah yang dapat dilakukan, yaitu:
a. Langkah Preventif
Membeli para
peserta didik dengan keterampilan-keterampilan praktis dan bermanfaat sejak
dini agar kelak bila diperlukan dapat merespons tantangan-tantangan hidup dalam
masyarakat secara positif sehingga dapat mandiri dan tidak menjadi beban
masyarakat atau menjadi parasit masyarakat. Misalnya keterampilan-keterampilan
kerajinan, jasa, perbengkelan, elektronika, PKK, fotografi, batik, dan lain
sebagainya.
b. Langkah Pembinaan
Memberikan
pengatahuan-pengetahuan praktis yang mengikuti perkembangan/ pembaruan zaman
melalui bimbingan dan latihan-latihan dalam lembaga-lembaga social/ pendidikan
luar sekolah seperti LKMD, PKK, dll.
c. Langkah Tindak Lanjut
Memberikan
kesempatan yang seluas-luasnya kepada mereka untuk terus melangkah maju melalui
penyediaan fasilitas-fasilitas penunjang sesuai kemampuan masyarakat tanpa
mengada-ada termasuk membina hasrat pribadi untuk berkehidupan yang lebih baik
dalam masyarakat. Misalnya memberikan penghargaan, bonus, keteladanan,
kepahlawanan dan sebagainya sampai berbagai kemudahan untuk melanjutkan studi
dengan program Belajar Jarak Jauh (BJJ), seperti Universitas Terbuka dsb, juga
melalui koperasi dengan berbagai kredit (KIK, KCK, Kredit Profesi, dsb).[2]
2. Masalah Pengangguran
Dalam
Bahasa Belanda memiliki tiga arti, yaitu:
a. Werkeloos: bagi pensiunan pegawai negeri
meskipun tanpa bekerja setiap bulannnya dapat menerima uang pension bahkan juga mendapat kenaikan uang pension sesuai
ketentuann yang berlaku.
b. Werkloos: bagi penduduk didaerah dingin,
pada musim Winter mereka tidak perlu bekerja dan kebutuhan hidup sehari-hari
telah mereka persiapkan pada hari-hari menjelang Winter datang.
c. Werklooze: bagi mereka yang sedang
mencari pekerjaan, tetapi tanpa/ belum memperoleh pekerjaan.
Pengangguran
yang sering menjadi masalah sosial adalah mereka yang enggan bekerja atau
kurang gigih berusaha bahkan tidak mau berusaha, tetapi ingin enak dan
terpenuhi kebutuhannya alias menjadi “parasit” masyarakat/ keluarga/ orang tua/
saudaranya.[3]
3. Pendidikan Wiraswasta untuk Mengurangi
Pengangguran dan Kemiskinan
a. Definisi
Pengertian/
definisi wiraswasta dapat ditinjau secara nominal dan secara real. Definisi
nominal/ harfiah dari kata wiraswasta (dari bahasa Sansekerta), ialah:
Wira:
berani, perkasa, utama
Swa:
(sendiri): berdiri menurut kekuatan sendiri: mandiri
Sta:
(berdiri)
Definisi
real/ operasional:
Wiraswasta
adalah keberanian, keperkasaan, keutamaan dalam memenuhi kebutuhan hidup
(sekeluarga) serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada
diri sendiri.
Dengan
kata lain dapat juga disebutkan bahwa:
Wiraswasta
adalah sikap hidup yang memiliki keberanian, keperkasaan serta keutamaan dalam
merespons setiap tantangan hidup dengan mengutamakan kekuatan sendiri.[4]
b. Ciri-ciri Manusia Wiraswasta
Secara
umum, manusia wiraswasta adalah orang yang memiliki potensi untuk berprestasi.
Ia senantiasa memiliki motivasi yang besar untuk maju berprestasi. Dalam
kondisi dan situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong
dirinya sendiri didalam mengatasi permasalahan hidupnya. Dengan kekuatan yang
ada pada dirinya, manusia wiraswasta mampu berusaha untuk memenuhi setiap
kebutuhan hidupnya.[5]
Ciri-ciri
manusia wiraswasta, diantaranya:
·
Memiliki
Moral yang Tinggi
Manusia yang
bermoral tinggi bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kemerdekaan
batin, yaitu kemerdekaan yang ditandai oleh adanya keselarasan antara
keinginan-keinginan dengan pandangan dalam diri seseorang, adanya keselarasan
antara kemauan dengan pengenalan diri atau seorang akan merasakan kemerdekaan
batin apabila setiap tingkah lakunya sesuai dengan kemauan serta pengenalan
diri. Disamping itu juga memiliki loyalitas terhadap hukum, sifat adil dan
lebih mementingkan keutamaan.
·
Memiliki
Sikap Mental Wiraswasta
Manusia yang
bermental wiraswasta mempunyai kemauan keras untuk mencapai tujuan dan
kebutuhan hidupnya, punya sifat jujur dan tanggungjawab, memiliki ketahanan
fisik dan mental, tekun dan ulet dalam bekerja dan berusaha.
·
Memiliki
Kepekaan terhadap Arti Lingkungan
Dengan belajar
dan bekerja itu manusia memperoleh kemajuan dan keberhasilan dalam hidup.
Lingkungan ikut mendukung usaha belajar dan bekerja manusia asalkan manusia
mengenal dan mendaya gunakannya.
·
Memiliki
Keterampilan Wiraswasta
Untuk menjadi manusia
wiraswasta diperlukan beberapa keterampilan, seperti keterampilan berfikir
kreatif, keterampilan dalam pembuatan keputusan, keterampilan dalam
kepemimpinan dan keterampilan dalam bergaul antar manusia.[6]
[1] Ary H. Gunawan, SOSIOLOGI PENDIDIKAN Suatu Analisis
Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2000), hlm 71-72
[2] Ary H. Gunawan, Ibid, hlm 72-73
[3] Ary H. Gunawan, Ibid, hlm 73
[4] Ary H. Gunawan, Ibid, hlm 75-76
[5] Wasty Soemanto, Pendidikan Wiraswasta (Jakarta: Bumi
Aksara, 1999), hlm 43
[6] Wasty Soemanto, Ibid, hlm 54-77